Ini Pidato Lengkap Jokowi di Sidang Umum PBB

  • Bagikan

Jakarta – Presiden Joko Widodo mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidatonya dalam sidang umum PBB yang berlangsung di markasnya di New York, Rabu 22 September 2021.

Jokowi menyampaikan pidatonya melalui virtual sedangkan Menlu RI Retno Marsudi hadir secara langsung di lokasi. Sebelum Jokowi memberikan pidato, Retno menyampaikan pengantar kepada majelis sidang. Total, ada 195 negara berpartisipasi dalam sidang umum PBB ke-76. 107 di antaranya berpartisipasi pada tingkat kepala negara, baik hadir langsung dan menyampaikan statement secara virtual.

Berikut pidato lengkap Jokowi dalam sidang umum PBB ke-76:

Yang Mulia, para pemimpin negara-negara anggota PBB, masyarakat dunia melihat ke arah sidang umum PBB untuk memberikan jawaban atas keprihatinan global utama. Kapan masyarakat akan bebas dari pandemi? Kapan ekonomi akan pulih dan tumbuh secara inklusif? Bagaimana mempertahankan planet ini untuk generasi mendatang? Dan kapan dunia akan bebas dari konflik, terorisme dan perang?

Mengingat perkembangan global saat ini, ada banyak hal yang perlu kita lakukan bersama. Pertama, kita harus membawa harapan bahwa kita bisa mengatasi pandemi COVID-19 dengan cerdas, adil dan merata. Kita tahu bahwa ‘tidak ada yang aman sampai semua orang aman’.

Kapasitas dan kecepatan antar negara dalam menangani COVID-19 termasuk dalam vaksinasi, sangat berbeda. Politisasi dan diskriminasi terhadap vaksin terus berlangsung. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan langkah-langkah konkret.

Di masa depan, kita harus menata ulang arsitektur keamanan kesehatan global. mekanisme baru diperlukan untuk memobilisasi sumber daya kesehatan global, yang meliputi pembiayaan, vaksin, obat-obatan, peralatan medis, serta petugas kesehatan di seluruh dunia, secara cepat dan adil. Kita perlu menetapkan standar protokol kesehatan global dalam kegiatan lintas batas, seperti kriteria vaksin, hasil tes, dan kondisi medis lainnya.

Kedua, pemulihan ekonomi global hanya dapat dicapai jika pandemi terkendali, dan negara-negara bergandengan tangan saling membantu. Indonesia, bersama dengan negara berkembang lainnya, merangkul investasi yang berkualitas, yang membuka banyak kesempatan kerja, ahli teknologi, pengembangan sumber daya manusia dan berkontribusi pada keberlanjutan.

Ketiga, komitmen Indonesia terhadap ketahanan iklim, pembangunan rendah karbon, dan teknologi hijau tegas dan jelas. Namun, proses transformasi energi dan teknologi harus memfasilitasi partisipasi negara berkembang, dalam pengembangan industri dan menjadi produsen teknologi. Pandemi COVID mengingatkan kita akan pentingnya diversifikasi sentra produksi vaksin di seluruh dunia.

Keempat, kita harus tegas dalam memerangi intoleransi, konflik, terorisme, dan perang. Perdamaian dalam keragaman dan perlindungan hak-hak perempuan dan minoritas harus ditegakkan. Kekhawatiran tentang marginalisasi perempuan dan kekerasan di Afghanistan, kemerdekaan Palestina yang sulit dipahami, dan krisis politik di Myanmar harus menjadi agenda bersama kita.

Para pemimpin ASEAN bertemu di Jakarta dan menyepakati lima poin konsensus yang pelaksanaannya membutuhkan komitmen penuh dari militer Myanmar. Harapan besar masyarakat global harus dipenuhi dengan langkah nyata dan hasil nyata. tanggung jawab ini ada di pundak kita, komunitas global menunggu adalah tugas kita untuk memberikan harapan bagi masa depan dunia.

Yang Mulia, pada tahun 2022, Indonesia akan menjadi Presidensi G20, dengan tema ‘Recover Together, Recover Stronger’. Indonesia mengupayakan agar G20 bekerja untuk kepentingan semua, untuk negara maju dan berkembang, utara dan selatan, besar dan kecil, negara kepulauan dan negara pulau kecil di Pasifik, serta kelompok rentan yang harus diprioritaskan. Inklusivitas akan menjadi prioritas utama selama presidensi Indonesia.

Ini adalah komitmen Indonesia untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang tertinggal. Ekonomi hijau dan berkelanjutan, juga akan menjadi salah satu prioritas. Indonesia sadar akan tempat yang strategis dalam perubahan iklim. Oleh karena itu, kami akan terus bekerja keras, untuk memenuhi komitmen kami.

Pada tahun 2020, Indonesia mengurangi kebakaran hutan sebesar 82%, dibandingkan tahun sebelumnya. Laju deforestasi telah turun secara signifikan, terendah dalam 20 tahun. Di tingkat global, Indonesia akan mengedepankan pembagian beban.

Dalam menghadapi agenda global yang menantang ini, Indonesia kembali menegaskan harapan dan dukungannya terhadap multilateralisme. Sangat penting bagi kita untuk menjaga multilateralisme yang efektif, dengan kerja nyata dan hasil. Mari kita bekerja sama, untuk pulih bersama, pulih lebih kuat. Terima kasih.

(YG)

  • Bagikan